Mentalitas Denmark

Kristina Budianti

Blogger, Freelance Translator Danish – Indonesia – English

 

 

Nuansa informal

Nilai-nilai kesamaan derajat, kehangatan, individualitas dan demikrasi sangat dijunjung tinggi oleh kebanyakan orang-orang Denmark. Nuansa informal di Denmark terasa lebih kental dibandingkan Negara-negara lain. Kita dapat memanggil “kamu” atau nama pertama kepada teman, kerabat dan rekan sejawat. Bukan hal yang aneh ketika kita mendengar mereka memanggil atasannya sendiri hanya dengan nama, tanpa embel-embel bapak atau ibu. Hal ini dapat kita temui juga di dunia pendidikan, di mana para siswa dapat memanggil guru-guru mereka hanya dengan nama depannya.

hidup-content21 

Demokrasi

            Diskusi dan debat merupakan aspek yang mendasar dalam pola kehidupan di Negara ini, baik di dalam keluarga maupun di tengah masyarakat. Orang Denmark sejak dini sangat sadar bahwa mereka dapat turut mengemukakan pendapat tanpa rasa takut. Dalam dunia usaha, dapat dilihat dan dirasakan bagaimana struktur dan proses demokrasi sangat berpengaruh kuat. Beberapa organisasi/perkumpulan juga menyumbangkan pengaruhnya terhadap kehidupan sosial dan demokrasi di Negara ini.

 

Humor dan kehangatan

            Kehangatan merupakan bagian yang sangat penting ketika kita berbicara tentang mentalitas orang Denmark. Walau sulit untuk menterjemahkan secara harfiah arti “hygge” (kehangatan) dalam bahasa Denmark, kita akan segera menyadari bahwa kata itu berkaitan dengan perasaan nyaman, nikmat dan menyukai satu sama lain, di mana tidak jarang makanan dan minuman sangat berperan penting dalam menciptakan perasaan tersebut. Humor juga merupakan bagian yang memiliki peran yang penting. Bagi kebanyakan orang Denmark, humor bersifat ironik dan seringkali sulit bagi kita untuk menerima atau memahaminya.

hidup-content22

Walaupun begitu, bila kita ingin mengenal mentalitas Denmark, kita harus belajar memahami gaya humor mereka tersebut

 

Kawan dan rekan

            Di Denmark, biasanya hubungan perkawanan terjadi setelah sekian lama menjalin hubungan sebagai rekan/sejawat. Orang Denmark sangat membedakan antara kawan dan rekan, begitu juga di kehidupan pribadi maupun di dalam perkumpulan, orang Denmark di kelilingi jejaring perkawanan yang dibangun dari sekian waktu lamanya. Hubungan yang berdasarkan kepercayaan harus terbangun terlebih dahulu sebelum mereka mau/sepakat menjalin hubungan usaha dengan rekanan barunya

 

Sosialistik individualistik

            Di Denmark, semua orang memiliki kedudukan dan hak yang sama tanpa membedakan latar belakang sosial dan asal-usul. Karenanya, banyak yang meyakini bahwa orang Denmark bersifat anti-individualistik, walaupun hal itu sama sekali tidak benar. Sebagaimana kebanyakan orang Eropa lainnya, orang Denmark memiliki kepercayaan mendasar tentang hak-hak mereka berkaitan dengan karir, tempat tinggal dan sebagainya sesuai kebutuhan individual mereka. Kemandirian dan inisiatif sangat dihargai dan rasa percaya yang tinggi menjadi karakter umum orang-orang Denmark.

hidup-content23

            Kemampuan untuk memadukan antara sifat individualistik dan fokus pada kesejahteraan bersama inilah yang kemudian disebut dengan “sosialistik individualistik”

 

Hubungan bilateral Indonesia - Denmark

            Hubungan diplomatik antara Indonesia dan Denmark mulai dijalin sejak tahun 1950. Walau pada tahun 1965 Kedutaan Besar Indonesia untuk Denmark sempat ditutup dan baru dibuka kembali pada tahun 1974, namun secara umum hubungan antara dua Negara ini terjalin baik dan menunjukkan perkembangan secara positif.

            Denmark secara hangat menerima perubahan-perubahan yang terjadi di Indonesia pasca krisis 1998, dan melihat perkembangan demokrasi Indonesia sebgai suatu perkembangan baik dan memposisikan Indonesia sebagai salah satu Negara anggota ASEAN yang teramat penting, terutama di peta dunia Islam.

            Hubungkan perdagangan antara Indonesia dan Denmark dibangun berlandaskan Perjanjian Perdagangan yang ditandatangani di Kopenhagen 9 Desember1952. Dari tahun ke tahun, nilai volume perdagangan antara dua Negara ini terus berkembang. Pada tahun 2008 lalu, nilai perdagangan bilateral antara dua Negara bernilai 273,47 juta US Dolar dengan surplus di pihak Indonesia sebesar 68,3 juta US Dolar. Pada tahun berikutnya, 2009, nilainya bertambah menjadi 285,47 juta US Dolar dengan surplus untuk Indonesia sebesar 133,8 juta US Dolar. Pada tahun 2010 nilainya meloncat lagi menjadi 348,5 juta US Dolar dengan surplus untuk Indonesia sebesar 11,82 juta US Dolar.

            Ekspor Indonesia ke Denmark didominasi oleh produk sepatu, minyak goreng, produk-produk hutan, tembakau dan baja. Sementara Indonesia mengimpor dari Denmark produk-produk farmasi, kimia, mesin, elektrik, daging, produk olahan susu dan ikan.

            Di sektor investasi sesuai data investasi asing dari Badan Koordinasi Pengembangan Modal (BKPM) tercatat pada tahun 2009 Denmark sebagai Negara nomor 30 dalam urutan Negara-negara investor terbesar di Indonesia dengan nilai 1,1 juta US Dolar untuk dua proyek perusahaan. Perusahaan besar yang beroperasi di Indonesia termasuk diantaranya perusahaan pelayaran AP Moller/Maersk Line dan ECCO, perusahaan sepatu internasional.

            Pemerintah Denmark berencana untuk menyiapkan bantuan pembangunan untuk Indonesia melalui Bank NORDEA Denmark – The Danish International Development Agency (Danida). Bantuan berupa pinjaman dari pemerintah Denmark itu digunakan untuk mendanai proyek Sistem Pelaporan Pelayaran dalam sistem navigasi pelayaran Indonesia termasuk kegiatan pelatihan, perawatan dan suku cadang

            Beberapa proyek pembangunan yang masih terus berlangsung antara Indonesia dan Denmark antara lain kegiatan dukungan untuk program-program lingkungan hidup tahap satu dan dua, dan juga proyek B to B sektor lingkungan hidup, Kebijakan Anti Korupsi Danida, penanggulangan terorisme dan program hak asasi manusia. (Sumber: Majalah Median LPMP Jatim – edisi: Lintas Batas/2016)