Green Education, Sistem Tanam Vertikultur Atasi Lahan Sempit

12

 

Perubahan alih fungsi lahan pertanian menjadi pemukiman, pertokoan, perindustrian, perkantoran dan lain sebagainya menimbulkan dampak yang sangat serius pada ketahanan pangan. Semakin sedikit jumlah lahan pertanian produktif mengakibatkan semakin tinggi bahan pangan yang kita impor dari negara lain. Hal ini menandakan adanya krisis bahan pangan di negara kita dan meningkatnya harga bahan pangan. Untuk menyiasati hal ini, banyak inovasi yang dapat kita lakukan. Tidak ada lagi alasan lahan sempit. Karena solusi untuk lahan sempit dan perubahan alih fungsi lahan dapat teratasi dengan urban farming, salah satu contoh urban farmingyang efisien adalah sistem tanam secara vertikultur.

Vertikultur merupakan cara bertani/bertanam, yang dilakukan dengan menempatkan media tanam dalam wadah-wadah yang disusun secara vertical(ke atas). Wadah media tanam tersebut dapat berupa kolom-kolom atau pot yang kemudian diatur sedemikian rupa sehingga pertanaman nantinya dapat tumbuh secara susun ke atas. Sehingga dengan demikian, vertikultur merupakan upaya pemanfaatan ruang ke arah vertikal (Nitisapto, 1993). Dalam pola tanam vertikultur, air hanya dibutuhkan bagi penguapan transpirasi tanaman, mengingat evaporasi hanya terjadi dari tanah dalam kolom wadah media tanam. Setiap kali penyiraman, beberapa tanaman dapat memperoleh air dari air atusan(tetesan) tanaman di atasnya. Pola tanam vertikultur dapat menghemat penggunaan air.

Untuk jenis tanaman yang dapat dibudidayakan, pada prinsipnya semua jenis tanaman semusim dapat dibudidayakan dengan pola ini. Tanaman semusim adalah tanaman yang hasilnya dapat dipungut 1-3 kali selama masa pertumbuhannya yang berkisar antara 6 bulan. Berbagai jenis sayuran seperti sawi, selada, seledri, dan kol bunga dapat ditanam dalam kolom wadah media berukuran kecil. Sementara, sayuran berbatang besar, seperti tomat, cabai dapat diusahakan dalam kolom yang besar. Penerapan pola tanam vertikultur memiliki keunggulan dalam hal menghemat lahan, menghemat air, mendukung pertanian organik karena media tanam berupa campuran tanah humus dan kompos. Bahan-bahan yang digunakan sebagai wadah media tanam, dapat disesuaikan dengan kondisi setempat/ketersediaan bahan yang ada (bambu, PVC bekas, kaleng, ember bekas, botol bekas), umur tanaman relatif pendek, pemeliharaan tanaman relatif sederhana, dan dapat dilakukan oleh siapa saja yang sungguh-sungguh berminat

Alhamdulilah, Lembaga Pendidikan Al Muslim telah dapat menerapkan sistem tanam vertikultur berkat ide brilian dari Ustadzah Erlina Nasution, M.Pd selaku Direktur Lembaga serta bantuan seorang insinyur handal dan kreatif, yaitu Bapak Sutan. Melalui kejeniusan beliau berdua, tabung-tabung vertikultur siap untuk direalisasikan. Saat ini telah ada 60 buah tabung vertikultur yang siap diterapkan di beberapa titik lahan.

Perwakilan SMA khususnya kelas XII IPA telah mendapat pelatihan eksklusif dari Bapak Sutan dan Ustadzah Erlina dalam hal pembuatan tabung vertikultur. Para siswa kelas X SMA, kelas VII, VIII SMP, serta kelas VI SD ikut berperan aktif dalam mewujudkan pola tanam vertikultur mulai dari pencampuran media tanam tanah humus dan pupuk kompos, pengisian media tanam dan penyemaian bibit, dan pemeliharaan tanaman. Para siswa sangat antusias dalam mempelajari pola tanam vertikultur. Selain sebagai media pembelajaran diharapkan siswa tingkat SMA dapat menjadikan pola tanam vertikultur sebagai bahan penelitian lanjutan untuk menghasilkan ide-ide melalui inovasi karya tulis ilmiah, produk teknologi tepat guna, dan investigasi lainnya. Begitu pula untuk siswa SD dan SMP diharapkan dapat menggali rasa curiosity mereka untuk peduli lingkungan.

Saat ini telah tertanam 14 buah tabung vertikultur menyebar di SMP dan SMA. Untuk semester depan tabung-tabung vertikultur akan banyak terlihat di wilayah lahan Al Muslim. Harapan untuk penghijauan dan konservasi air serta peningkatan lahan produktif akan terus terwujud.