IGI Mencari Guru Terbaik Bidang Literasi

kabar2

 

Ikatan Guru Indonesia (IGI) memiliki kontribusi untuk mengembangkan profesionalitas guru di Indonesia. Kontribusi ini dilakukan melalui bentuk gerakan-gerakan yang beriringan dengan program yang digulirkan Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan RI. Salah satunya, Gerakan Literasi yang sudah dikuatkan dengan Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan. Sebelum Kemdikbud secara legal memayungi gerakan ini dengan peraturan menteri, IGI telah menginisiasi gerakan serupa yaitu Gerakan Indonesia Membaca dan Gerakan Indonesia Menulis.

 

Ketua Umum IGI Pusat M. Ramli Rahim menegaskan IGI akan selalu mendorong anggotanya untuk melakukan Gerakan Literasi ini. “Kami sudah bertekad, kami ingin ada 1 juta guru di seluruh Indonesia ini terlatih literasi dalam 5 tahun ke depan. Saya tidak ingin lagi terjadi guru yang rela tidak naik pangkat daripada menulis,” kata Ramli saat berbicara di hadapan guru-guru se-Jawa Timur pada Seminar Nasional Membangun Budaya Literasi Menuju Indonesia Emas 2045, Minggu (27/3/2016).

Pria dari Sulawesi Selatan ini menuturkan pernah bertemu dan berbicara dengan beberapa Kepala Dinas Pendidikan. Dari pertemuan itu, kepala dinas mengatakan kadangkala menerima naskah karya tulis dari guru. “Baru ditanya judulnya sudah bingung yang menulis, apalagi isinya. Ini indikasi bahwa karya yang disodorkan ini bukan karya dia (guru), dan kita tidak mau guru-guru Indonesia menjadi guru-guru yang melakukan hal-hal yang menciderai intergritas,” lanjutnya.

Berdasarkan fakta tersebut, Ramli mendorong anggota IGI di kabupaten/kota secara aktif melakukan diklat literasi. Dia menargetkan 1 juta guru mengikuti diklat ini, minimal melatih 100 guru dalam satu bulan.

“Bagaimana caranya agar program ini bisa berjalan? Saya sudah berkoordinasi dengan Ibu Istiqomah selaku Ketua Bidang Literasi dan Publikasi Karya Guru IGI Pusat, kita akan membuat seleksi, meminta guru se-Indonesia mengirimkan tulisan dan mengirimkan video, yang kemudian kita seleksi menjadi 100 guru terbaik yang membuat karya. Dan kemudian kita kumpulkan di satu tempat, kita minta dia bikin kurikulumnya, setelah kurikulumnya jadi inilah yang akan kita gunakan di seluruh Indonesia,” ujar Ramli dengan logat Makasar.

Rencananya, kata Ramli, 50 dari 100 guru terbaik itu akan diupayakan menjadi instruktur nasional dan meminta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI mengeluarkan sertifikat menjadi instruktur literasi nasional.

“Lalu apa parameter literasi ini sukses? Kami sampaikan bahwa kami akan membicarakan dengan Pak Ditjen GTK (Guru dan Tenaga Kependidikan) kita akan minta guru-guru yang sudah ada karyanya diberikan sertifikat. Jadi mereka yang mengikuti latihan bukan berarti punya sertifikat, yang diberikan sertifikat adalah mereka yang karyanya sudah diupload di media online IGI. Kenapa harus diupload ? Supaya yang plagiat, yang suka mengambil karya orang lain itu terdeteksi dengan amat sangat mudah. Jutaan guru akan membuka itu dan setelah itu terbuka baru ketahuan, silahkan disampaikan ke IGI.”, tegas Ramli

 

Kenalkan konsep “Guru Saudara” dan “Gerakan Bayar Balik”

Pada kesempatan yang sama Ramli sempat memamerkan gerakan yang tercetus dari IGI Makasar, dan diperkenalkan dengan nama konsep ‘Guru Saudara’. Menurut penuturannya, Guru Saudara ini sudah diketahui Menteri Anies Baswedan dan oleh Anies diceritakan kembali di tempat lain dengan mengatakan bahwa kita akan jauh baik membangun persaudaraan dengan model “Guru Saudara”.

Konsep ini sudah dilakukan Ramli ketika ada kegiatan di Makasar yang mengundang guru-guru dari berbagai daerah, sebanyak 567 orang yang hadir 90 persen diantaranya ditampung oleh guru-guru yang ada di Makasar. “Kami ingin kegiatan IGI yang banyak itu dari luar daerah bisa dilanjutkan dengan program Guru Saudara,” ujarnya.

Selain itu, Ramli juga sedang menjalankan “Gerakan Bayar Balik”. Gerakan ini, katanya, untuk menggugah semua orang yang pernah sekolah agar membayar hutangnya ke sekolah di mana mereka dulu bersekolah. Gerakan yang dimaksud Ramli berupa menyumbang sekolah yang dulu digunakan untuk menimba ilmu. Wujud kecil dari sumbangan ini, Ramli mencontohkan, dengan memberi buku-buku bermanfaat untuk sekolah tersebut.

“Mereka merasa menyumbang kepada sekolah, padahal itu bukan sumbangan. Merekalah yang selama ini berhutang kepada sekolah, termasuk kita. Biaya sekolah kita berapa sih dan berapa anggaran pemerintah untuk menyekolahkan kita semua. Ayo kita ramai-ramai kembali ke sekolah kita masing-masing,” paparnya.

Di penghujung uraiannya, Ramli mengatakan saat ini IGI sedang mengumpulkan 10 program nasional melalui sidang virtual. Ini dimaksudkan untuk menghimpun aspirasi pengurus menentukan program 5 tahun ke depan.

Dia tidak lupa melakukan ajakan untuk memupuk semangat IGI di Jawa Timur. “Ayo bersama-sama kita galang kekuatan bukan untuk menjadi saingan siapapun, bukan untuk menjadi yang terbaik dari semua organisasi, tapi ayo sama-sama kita bulatkan tekad, kita ciptakan keinginan yang luhur dari dalam hati kita semua bahwa kita ingin kompetensi guru di Indonesia jauh lebih baik dari negara lain,” tutupnya. (Bagus Priambodo/sumber: Majalah Median LPMP Jatim – edisi: News/2016)