Nilai UKG Memuaskan, 24 Ribu "Guru Keren" Dihadiahi Training Ke Luar Negeri

kabar3

Meningkatnya kompetensi guru dan tenaga kependidikan akan berdampak pada kualitas hasil belajar siswa. Untuk itu, setiap tahun kompentensi guru ini diukur oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI melalui penyelenggaraan Uji Kompetensi Guru (UKG). Tahun 2019, Kemdikbud mentargetkan nilai Standart Kompetensi Minimum (SKM) UKG adalah 8,0.

Dra. Anis Muftiani, MM mewakili Dirjen GTK, Sumarna Surapranata memaparkan target tersebut akan dicapai secara bertahap. Pada tahun 2015 nilai sesuai SKM ditargetkan secara nasional adalah 55, sedangkan Jawa Timur berada di posisi ke-4 yaitu 56,73. “Ketika kita melakukan gerakan untuk peningkatkan kompetensi dan profesionalisme, saya kira akan menggelinding menjadi bola salju yang luar biasa dan ini ujungnya menjadi lulusan yang berkualitas, pendidikan kita akan maju pesat,” kata Anis yang memaparkan hasil UKG dari dua bidang yaitu pedagogik dan profesional.

Selain itu, dihadapan para peserta Seminar Nasional Membangun Budaya Literasi Menuju Indonesia Emas 2045 di LPMP Jatim, Minggu (27/3/2016) ini Anis juga menunjukan potret distribusi rentang dari perolehan nilai 1sampai dengan 100. “Dari perolehan nilai 1 sampai 100, jika kita lihat nilai yang mendapatkan nilai 91-100 itu ada 17.743 orang, nilai 81-90 itu 100.701 orang, totalnya ada berapa? 118.444 guru. Ini yang disebut dengan Guru Keren,” tutur Anis.

Guru yang memperoleh nilai terbaik dan disebut Anis sebagai Guru Keren ini akan mendapatkan penghargaan dari Mendikbud RI untuk training ke luar negeri selama 1 bulan. Guru Keren ini ditargetkan menjadi 24 ribu guru. “Jadi ini masih diseleksi lagi. Tahun ini akan diberangkatkan 2400 guru, mudah-mudahan agendanya pada Hari Pendidikan tanggal 2 Mei sudah diluncurkan 1500 Guru Keren ini ke luar negeri,” lanjut Anis.

Anis mengatakan profesi guru saat ini menjadi perhatian Kemdikbud. Dia lantas menyemangati para guru melalui organisasi Ikatan Guru Indonesia membantu kreativitas guru untuk semakin maju ke depan. “Kami di kementerian (Kemdikbud) akan mendorong terus supaya mencapai Guru Keren. Guru Keren ini sudah kita pikirkan untuk mendapatkan penghargaan dan menempatkan pada tugas-tugas yang lebih besar dari ini. Tapi kita juga masih prihatin dengan guru yang berada dicapaian nilai yang rendah,” ungkap Anis

Bagi guru yang memperoleh nilai rendah, Ditjen GTK (Guru dan Tenaga Kepenidikan) Kemdikbud menyiapkan solusinya. “Jadi kalau kita melihat bahwa tema pada kesempatan ini ‘Membangun Budaya Literasi Menuju Indonesia Emas 2045’ saya kira ini sangat tepat, jadi membangun literasi itu persepsi saya adalah belajar, belajar dan belajar. Oleh karena itu kami di dalam solusinya adalah kita sebut Guru Pembelajar (GP),” pungkasnya.

Solusi ini mengalami perubahan, jika dulu guru yang memiliki nilai rendah harus mengikuti pelatihan demi pelatihan berdasarkan undangan dari pusat, LPMP, dinas ataukah lainnya, tetapi sekarang solusi yang dipersiapkan berbasis pada kebutuhan masing-masing individu guru.

“Jadi yang kita persiapkan adalah model Guru Pembelajar dalam 3 model. Satu, yang disebut tatap muka seperti yang selama ini dialami, yaitu diundang di sebuah pelatihan tatap muka, ada pelatihnya, ada trainer-nya, ada instrukturnya, ada fasilitatornya, itu disebut model tatap muka. Tempat itu bisa di pusat pembelajaran, pusat belajar KKG, MGMP, KKS, MKKS dan juga di asosiasi profesi, bisa juga di LPMP dan sebagainya, tempat bisa di mana saja. Siapa saja guru yang mendapat model tatap muka yaitu guru yang nilai UKGnya tidak memenuhi syarat. Jadi dia itu merahnya ada 8-10. Tatap muka itu karena harus ada pembimbingan intens,” kata Anis.

Selanjutnya, yang kedua, lanjut Anis, adalah model kombinasi. Model ini mengkombinasikan antara model daring (dalam jaringan) yang menggunakan sistem online dengan model tatap muka. Model kombinasi ini dikhususkan bagi guru yang memiliki nilai merah 6-7. Sedangkan guru dengan nilai merah 3-5 menggunakan model daring atau full online.

“Ini 3 model dan satu lagi sebetulnya adalah yang kita sebut nanti masuk kategori IN (instruktur nasional) atau mentor. Jadi Guru Keren itu adalah calon instruktur nasional/mentor yang akan dilatih oleh PPPPTK (Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan) sesuai dengan jenjangnya dan wali wilayah untuk seluruh guru yang ada di Jawa Timur adalah TC Malang,” imbuhnya

Menjelang akhir pembicaraannya, Anis memberikan konklusi, “Jadi intinya dari literasi adalah pengetahuan, bahasa dan budaya, poinnya bagaimana kita membangun budaya literasi melalui membaca dan menulis. Kita sudah masuk pada era di mana memang literasi adalah belajar, belajar dan belajar. Oleh karena itu metode yang kita kembangkan adalah Guru Pembelajar. Sudah kita siapkan modul-modulnya dan kemudian anda masuk model yang mana.”

Tahun 2016, dijelaskan Anis, tidak ada UKG seperti tahun 2015 yang sudah terjadwal tanggal, jam dan tempatnya. “Instrumen UKG akan menyatu, akan terintegrasi di dalam modul itu sendiri yang kita sebut pre test. Model apapun yang akan diikuti, akan ada pre test yang nanti akan masuk menjadi nilai anda. Kemudian dilakukan pelatihan. Setelah itu ada post test UKG tingkat 2. Nanti setiap orang memiliki progres dari capaian nilai yang ter-record secara otomatis,” papar Anis. (Bagus Priambodo/sumber: Majalah Median LPMP Jatim – edisi: News/2016)