Widyaiswara LPMP Jatim Siap Dampingi Guru Membuat PI Dan KI

kabar6 fileminimizer

Guru yang profesional dibentuk melalui berbagai kegiatan, salah satunya dengan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB).  Pada pelaksanaan PKB, guru diwajibkan melakukan, diantaranya, pengembangan diri membuat publikasi ilmiah (PI) dan pengembangan karya inovatif ilmiah (KI) untuk mendapatkan angka kredit tertentu.

 

“Inti dari PKB adalah angka kredit PKB yang harus dicapai guru. Biasanya guru terlena ketika sekolahnya sendiri tidak mengelola maka pengembangan dirinya juga teledor,” kata Kepala LPMP Jatim Drs. Bambang Agus Susetyo, MM., M.Pd., pada kegiatan Provincial Strategic Planning Workshop For Dissemination (PKB) Kabupaten/Kota Mitra USAID Prioritas Jatim, Rabu (16/3/2016) di Malang.

Pada pengembangan diri, guru diminta untuk membuat publikasi ilmiah dan karya inovatif ilmiah. Banyak guru mengaku kesulitan membuat publikasi ilmiah dan karya inovatif ilmiah ini. Dengan adanya LPMP, menjawab kesulitan guru-guru tersebut. Bambang mengatakan, guru di tingkat kabupaten/kota bisa bekerjasama dengan LPMP untuk menyiapkan publikasi ilmiah dan karya inovatif ilmiah. Dibantu dengan Widyaiswara yang ada di LPMP, guru akan mendapatkan bimbingan.

 “Bagaimana seorang guru ini menyiapkan karya inovatifnya, kami punya banyak Widyaswara. Barangkali bagaimana membuat modul, KTI (karya tulis ilmiah), artikelnya,” kata Bambang yang menyebut jumlah Widyaswara yang ada di LPMP Jawa Timur ada 25 orang.

Pengembangan diri yang berkaitan dengan peningkatan mutu guru ini akan didorong dengan upaya LPMP ke daerah. “Kami sudah berusaha dalam rangka untuk itu. Nanti di kabupaten/kota akan akan kami dirikan semacam satgas-satgas, satgas mutu nantinya. Nah, urusan mutu sangat komplek, sehingga harus kita diurai dari awal,” tegas Bambang

            Ditemui usai kegiatan, Bambang kembali menjelaskan bahwa kehadirannya di hadapan para pendidik untuk menyambung hubungan kemitraan dengan pemerintah provinsi dan kabupaten/kota serta menjembatani kebutuhan guru akan PKB.

“Jadi guru ini taruhlah memiliki kebutuhan di situ yang nanti ada match-nya dengan tugas fungsi kami di LPMP. Jadi seorang guru yang melakukan pengembangan diri jelas dia mengkuti diklat, workhop. Itu satu tahun paling tidak dia harus memiiliki nilai satu. Kemudian di samping pengembangkan diri, guru harus melakukan publikasi ilmiah dan karya inovatif ilmiah, ini yang harus dilakukan dan dipahami seorang guru. Sehingga lembaga yang bisa membantu itu antara lain LPMP karena tugas dan fungsi kami di situ,” kata Bambang di hadapan para pewarta.

Bambang  melanjutkan, “Membantu dengan jalan apa? satu, membimbing, melatih guru untuk bikin modul, misalnya, karya tulis ilmiah, tulisan-tulisan ilmiah yang lain, artikel dan sebagainya. Ini nanti dibantu oleh Widyaswara. Widyaswara spesialisasinya ada yang pintar membuat artikel, bikin penilaian dan sebagainya. Untuk itu ketika disambungkan oleh USAID, maka ada satu sinergi yang luar biasa, artinya bahwa guru tidak terbuai dengan tugasnya, karena tugasnya untuk mengajar akan menyita waktu, mereka sendiri tidak melakukan kegiatan-kegiatan ilmiah dan sebagainya.”

            Diungkapkan Bambang tingkat akvitas guru dalam publikasi ilmiah dan karya inovatif ilmiah masih cukup rendah. Dia menyadari bahwa guru jika tidak dipaksa untuk membuat publikasi ilmiah dan karya inovatif ilmiah akan susah. “Maka kewajiban kita adalah untuk dalam rangka ‘memaksa’. Anak kita saja kalau tidak dipaksa shalat Subuh pagi, dia tidak akan shalat Subuh, demikian juga guru kalau tidak dipaksa menulis akan terbelenggu oleh kegiatan mengajar saja. Maka Di sinilah peran kita semua untuk gandengan, kolaborasi agar guru punya kreativitas,” papar Bambang yang menyarankan agar guru harus mencoba untuk melakukan karya inovatif.

            Namun, tidak semua guru memiliki keterbatasan dalam membuat publikasi ilmiah atau karya inovatif ilmiah. Diantara mereka sudah ada yang bisa membuat publikasi ilmiah, namun terkendala tidak adanya media publikasi. Bambang mengarahkan agar para guru memanfaatkan buku jurnal yang diterbitkan LPMP Jatim.

“Kami sudah mennyiapkan wadahnya yang namanya jurnal. Di perguruan tinggi pun wadah yang memang akademis bisa dipertanggungjawabkan itu ada jurnal. Jadi kami di LPMP ini sudah siapkan wadahnya. Sehingga jika ada guru di daerah ingin mempublikasikan soal itu kami siap, dengan cost yang tidak terlalu mahal. Monggo (silahkan),” pungkas Bambang. (Bagus Priambodo/sumber: Majalah Median LPMP Jatim – edisi: News/2016)