Kurikulum 2013 ibarat bahtera Nabi Nuh

Kabar sepekan ----- Sepekan di Jawa Timur (Seputar Pendidikan)
articles_6_clip_image002 
Surabaya --- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhammad Nuh mengakui banyak pihak yang pro dan kontra terhadap implementasi Kurikulum 2013.

Mantan Rektor ITS ini menuturkan, ada yang menuding Kurikulum 2013 belum sepenuhnya memuat delapan standar nasional pendidikan yang di antaranya meliputi sarana prasarana, standar kompetensi, isi/materi, proses, evaluasi dan lainnya. 

Padahal, lanjut Mendikbud, Kurikulum ini justru terdiri dari kompetensi, isi/materi, proses dan evaluasi. 

"Ada juga yang mengatakan kurikulum ini dibangun tergesa-gesa", katanya saat memberikan paparan tentang kurikulum baru ini di rapat koordinasi nasional (rakornas) "Implementasi Percepatan Penjaminan Mutu Pendidikan Tahun 2013" yang berlangsung di LPMP Jawa Timur mulai 21-23 Juni 2013.

Menurutnya tidak masalah. Perbedaan pandangan maupun pendapat adalah resiko dalam sebuah dinamika. Terlebih dunia pendidikan di Indonesia dikenal dengan istilah ganti menteri ganti kurikulum. “Ya sudah jalan saja. Tujuannya kan baik”, tegasnya

Ia pun mengaku cukup lama merenungkan penolakan terhadap kurikulum baru tersebut. Dari perenungan itu, dia ingat kisah Nabi Nuh yang membangun bahtera atau perahu besar untuk menyelamatkan umatnya dari banjir besar.

Dalam kisah Nabi Nuh itu, anak Nabi Nuh justru diam di bukit bersama kaum yang menentang pembuatan bahtera. Saat itulah, banjir tiba dan kaum Nabi Nuh yang masuk bahtera bisa selamat. Sementara kaumnya yang ngotot tinggal di bukit tetap tersapu air bah. 

“Jadi yang ikut naik perahu selamat, yang mendukung kurikulum selamat. Lha mergo panjenengan tadi sudah deklasari ndukungkurikulum baru. Artinya, he anakku numpako, melok numpak sampean", katanya dengan paduan Indonesia - Jawa Timur menggunakan logat Suroboyoan untuk mencairkan suasana, yang disambut gemuruh tawa dan applause meriah dari seluruh peserta rakornas.

Mendikbud menyampaikan, dunia ini pasti mengalami perkembangan termasuk yang ada di dalamnya seperti manusia, industri, budaya dan lain-lain. Maka kebutuhan pun berkembang termasuk kurikulum yang dituntut bisa sesuai dengan perkembangan zaman. 

"Kalau kurikulum tetap, dunia berubah, maka enggak akan selesaikan masalah perubahan ini. Kita ikuti perubahan dunia, maka dunia pendidikan pun butuh kurikulum yang harus dan mampu mengantisipasi perubahan-perubahan itu", terangnya.

M Nuh kembali mengulas cerita Nabi Nuh, air bah yang muncul ibarat perubahan. Air yang datang bisa sangat besar bisa juga surut. Maka diperlukan wadah seperti bahtera yang mampu menyesuaikan diri dengan air. 

Menurutnya, percuma lari ke bukit tinggi karena air bah yang datang bisa lebih tinggi dari bukit. Maka diperlukan perahu yang bisa mengikuti besar dan kuatnya arus air. 

Sebelumnya telah dilakukan Deklarasi pernyataan sikap tentang kesiapan dan dukungan penuh terhadap Pelaksanaan Kurikulum 2013. Dilanjutkan dengan penandatangan Nota Kesepahaman Implementasi Percepatan Penjaminan Mutu Pendidikan/Pelaksanaan Program Penjaminan Mutu Pendidikan oleh 38 dinas pendidikan kabupaten/kota se-Jawa Timur secara simbolis. (BP)