Harga buku Kurikulum 2013 jauh di bawah harga buku di pasar

Kabar sepekan ----- Sepekan di Jawa Timur (Seputar Pendidikan)

articles_2_clip_image002 
Surabaya ---  Kritik keras terhadap Kurikulum 2013 telah ramai muncul di berbagai media sejak akhir 2012 lalu.  Termasuk diantaranya kecurigaan beberapa pihak yang menganggap kurikulum tersebut diciptakan hanya karena kepentingan proyek semata. Hal itu diungkapkan Mendikbud, Muhammad Nuh saat  acara rapat koordinasi nasional (rakornas)  "Implementasi Percepatan Penjaminan Mutu

Pendidikan Tahun 2013" hari kedua (22/6) di LPMP Jawa Timur. 

Menteri Nuh mengatakan, beberapa kali pihaknya dikritik, kurikulum ini pasti orientasinya proyek. Namun dia membantah dengan memaparkan secara logis dan transparan hasil survey timnya tentang harga buku sekolah di berbagai toko buku yang di rakornas kali ini di paparkannya dalam bentuk tabel perbandingan harga buku Kurikulum 2013 dan buku hasil survey pasar sebagai berikut:

 


No

Judul Buku

Buku Kurikulum 2013

Buku Hasil Survei Pasar

Jumlah Hal

Harga (Rp.)

Jumlah Hal

Harga (Rp.)

1

Tematik Diriku (Kelas I)

112

7.392

111

32.000

2

Tematik Keluargaku (Kelas I)

112

7.392

111

32.000

3

Matematika (Kelas VII)

368

24.288

247

52.000

198

52.000

4

Bahasa Indonesia (Kelas VII)

240

15.840

245

68.000

5

Agama Islam (Kelas VII)

176

11.616

193

48.000

6

Bahasa Inggris (Kelas VII)

192

12.672

202

52.000

7

Penjasorkes (Kelas VII)

256

11.616

210

38.000

8

Seni Budaya (Kelas VII)

176

11.616

166

53.000

9

PPKN (Kelas VII)

144

9.504

330

42.000

10

Matematika (Kelas X)

400

26.400

289

72.000

355

131.000

11

Bahasa Indonesia (Kelas X)

256

16.896

143

44.000

 

Melihat tabel di atas jelas harga buku Kurikulum 2013 jauh lebih murah dan jauh di bawah harga pasar. “Seandainya buku-buku  yang lain harganya seperti itu, ini sangat meringankan beban orang tua siswa. Ini jelas bukan proyek”, pungkasnya

Menurutnya Kurikulum 2013 ibarat mobil yang sedang berjalan dan tidak hanya membawa satu muatan saja tetapi banyak hal lain yang dapat dibawa di situ. “Artinya kurikulum ini dapat menciptakan berbagai perubahan ke arah yang lebih baik. Mulai dari kualitas guru dalam mengajar, pelatihan gurunya sampai urusan bisnis perbukuan  dan urusan yang lain bisa kita dirubah menjadi lebih baik,” tegasnya, menjelaskan ke para peserta rakornas.

Menteri Nuh menambahkan, tahun depan penggandaan buku pendukung Kurikulum 2013 akan diserahkan langsung ke dinas pendidikan kabupaten/kota melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) maupun pos khusus lain. “Kami tidak ingin menggandakan, nanti dipikir kami punya bisnis. Yang kami pegang dan kami kendalikan cukup substance atau isi dari buku tersebut”, ungkapnya.

Protes pun masih berlanjut terhadap buku SD kelas satu yang ditetapkan Menteri Nuh sebagai buku habis sekali pakai hasil diskusi dengan para pakar. Ada yang mengatakan, ini adalah pemborosan. “Karena asumsinya setiap nyetak saya dapat untung. Sehingga kalo nyetaknya berkali-kali saya dapat untung berkali-kali”, paparnya.  

Dia pun menyikapi  anggapan ini dengan pertanyaan balasan sederhana. “Apakah mungkin buku tadi nanti masih bisa digunakan? Karena bisa jadi buku tadi penuh coretan dan gambar. Namanya anak kelas satu kan masih seneng-senengnya seperti itu”, ungkapnya. 

Dia menekankan, tidak mungkin melarang siswa kelas satu SD menggambar  dan mencoret-coret bukunya. Menurutnya itu masih merupakan bagian dari pengembangan kreativitas anak.  “Jadi ya biarkan saja”, imbuhnya.

Kurikulum 2013 mengembangkan dua buku wajib. Buku pelajaran untuk siswa dan buku pegangan untuk guru. Sehingga nanti selama 5 atau 6 hari, guru akan dilatih tentang dua hal tersebut. Terlihat aneh apabila ada guru yang menggunakan buku lain. Terlebih bila harganya lebih mahal. (BP)