Mencetak generasi yang lebih baik lewat buku

Kabar sepekan ----- Sepekan di Jawa Timur (Seputar Pendidikan)
IMG_8262
Surabaya --- Banyak cara dapat dilakukan untuk turut serta mendukung implementasi Kurikulum 2013 yang kental dengan substansi pengembangan kreativitas. Diantaranya menulis buku-buku pengayaan

“Kreativitas adalah akar dari inovasi”, tegas M Nuh, jelang akhir paparannya di rapat koordinasi nasional (rakornas) "Implementasi Percepatan Penjaminan Mutu Pendidikan Tahun 2013" yang berlangsung di LPMP Jawa Timur (Sabtu/22/6/2013).

Namun, lanjut Mendikbud, selain kreativitas, Kurikulum  ini memperkuat pula agama dan budi pekerti siswa. “Pendidikan agama dan budi pekerti itu ditujukan untuk membangun pendekatan yang penuh kesantunan dalam menemukan solusi, sehingga solusi tidak berbentuk kekerasan’, terangnya.

Dirinya mengaku, saat ini sedang menulis sebuah buku pengayaan yang isinya menceritakan tentang kisah-kisah menarik inspiratif.

Antara lain tentang anak kecil yang kreatif, bernama Ali Husein. Yang menolong anak Ustadz Massah, guru matematika kala itu, menemukan bara api untuk sang ibu memasak. “Dialah yang sekarang kita kenal dengan nama Ibu Sina, Mbahnya ilmu kedokteran”, jelas Nuh .

“Tidak hanya itu”, imbuhnya

Menteri Nuh pun mengisahkan sedikit tentang Badui yang dibiarkan Nabi kencing di masjid karena ketidak tahuan dan sudah tidak tahan. Menurut Nabi, bila dikejar kencingnya akan berceceran dan menyebar kemana-mana. Makin sulit pula membersihkannya.  Yang ingin ia tunjukkan adalah kesantunan Nabi Muhammad SAW dalam menyelesaikan masalah.

Menurutnya, hal itu erat kaitannya dengan penanaman kuat akan nilai-nilai agama dan budi pekerti.

“Kita ingin adik-adik kita dalam menyelesaikan masalah tetap santun dan tidak beringasan”, ungkap Nuh.

Cerita lainnya tentang hakekat investasi sumber daya manusia. Dua anak kecil berusia sekitar sepuluh dan tujuh tahun yang datang ke makam sang ayah bergoncengan mengunakan sepeda engkol.  “Apa yang menarik di situ?”, tanyanya. Mendikbud menuturkan, walaupun belia tiap kali mereka datang. Mereka  membaca berulang-ulang beberapa doa ke sang ayah sambil meneteskan air mata.

“Sudahkah kita semua seperti itu? Padahal kita sendiri sampai menikah pun diantarkan. Bahkan  sampai lulus perguruan tinggi. Tapi masih seringkali menyakiti hati orangtua kita”, ungkapnya.

Banyak hal menurut Mendikbud, M Nuh yang dapat dipetik dari buku itu nantinya. “Termasuk kisah istri pertama yang setia bersama kita sampai akhir hayat yaitu amal sholeh kita sendiri”, tambahnya 

Harapannya, buku tersebut  mampu memberikan pengayaan, membangun dan mencetak generasi yang cerdas, berpengetahuan, bermoral, memiliki integritas, totokromo dan akhlak yang baik dan memadai.

Saat ini, dalam rangka mendapatkan naskah buku yang bermutu dan menggali potensi menulis di kalangan siswa, mahasiswa, pendidik, tenaga kependidikan dan masyarakat umum, Pusat Kurikulum dan Perbukuan  Kemdikbud menyelenggarakan Sayembara Penulisan Naskah Buku Pengayaan 2013. (BP)
*Informasi lebih lanjut tentang sayembara menulis baskah buku dapat dilihat pada poster yang terlampir di bawah:
Poster-Sayembara-Penulisan-Buku-Pengayaan-2013