Utamakan Rasionalitas Ilmu, Siswa Tidak Lagi Menghafal

Kabar sepekan ----- Sepekan di Jawa Timur (Seputar Pendidikan)
berita 5
Surabaya --- Pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran dengan Kurikulum 2013 adalah scientific approach. Scientific approach bermuara pada kreatifitas yang menjadi dasar inovasi. Inovasi itulah yang bisa menyelesaikan persoalan-persoalan komplek sehingga anak-anak kita harus punya high order thingking, tidak hanya menghafal. Demikian dijelaskan M. Nuh, Mendikbud yang menjabat selama dua periode, dalam pertemuan dengan seluruh narasumber Kurikulum 2013 di hotel Oval, Surabaya pertengahan Maret lalu.

Memang kurikulum-kurikulum yang diterapkan sebelum-sebelumnya diakui hanya mengajarkan peserta didik untuk menghafal bukan memahami. Mendikbud menyampaikan sebuah ilustrasi dialog imajinatif-reflektif. “Ada bu guru SD menceritakan tentang telor ayam dierami induknya 22 hari menetas. Ditanya oleh muridnya kenapa tidak 25 hari, karena dijawab terlalu lama. Ditanya kenapa tidak 20 hari, dijawab karena terlalu cepat. Yang bener ya 22 hari itu. Si anak pulang. Ketika ibunya goreng krupuk, mau diambil yang masih panas, dilarang ibunya. Jangan tunggu dingin dulu. Karena si anak punya intelectual curiousity yang tinggi, diambillah yang panas dan yang sudah dingin. Anak itu bilang kepada bu guru, kenapa krupuk masih panas agak melempem yang dingin sudah kriuk-kriuk. Itulah bedanya krupuk panas dan dingin.”

Ilustrasi ini mengundang tawa para hadirin yang berjumlah 246 orang yang diproyeksikan akan menjadi narasumber bagi kepala sekolah dan pengawas. Ilustrasi ini menyindir model pembelajaran yang sudah semenjak lama mendarah daging di dunia pendidikan Indonesia.

“Jadi ini ilustrasi bahwa dulu, guru-guru kita, guru-guru dari guru-guru kita dan seterusnya hanya mengajarkan hafalan saja sehingga banyak murid yang belum sampai substansi. Kurikulum 2013 mengutamakan rasionalitas ilmu yang disampaikan oleh guru sehingga murid bisa memahami lebih dalam, tidak lagi menghafal,” imbuhnya.

Mendikbud juga menyampaikan keluhan sebagian pendidik bahwa guru-guru banyak yang mengalami kesulitan dalam menilai dengan cara kualitatif-deskriptif. Menurut Mendikbud hal tesebut wajar karena guru waktu sekolah punya guru, juga punya guru lagi dan seterusnya, itu cara menilainya kuantitatif numerik. “Rapor kita isinya pelajaran X enam Y tujuh dan seterusnya,” pungkas Nuh

Mendikbud meyakinkan bahwa penilaian kualitatif-deskriptif adalah ilmu katon artinya mudah dipelajari, bukan ilmu ghaib. Kalau dilatih tentu bisa, buktinya ada yang bisa melakukan penilaian kualitatif deskriptif. “Terus terang, kenapa kita ngotot harus jalan K13, sebab sekolah-sekolah bagus di kota-kota besar yang bayarnya mahal, SPPnya bisa 1 juta 2 juta tiap bulan, semuanya scientific approach dan penilaiannya deskriptif. Kalau tidak segera diterapkan di SD-SD gratis nanti tambah kasihan mereka. Yang kaya akan lebih cepat karena pendidikannya baik sedangkan yang miskin tetap saja konsisten,” ucapnya disertai senyuman.

  1. k akan jadi teroris soalnya yang 2 jam itu tidak utuh pengetahuannya.”

Kisah yang disampaikan Mendikbud ini sontak membuat para hadirin tersenyum takjub. Nampaknya sebagian hadirin juga ada yang “termakan” pola pikir para wartawan asing tersebut. Setelah mendengar kisah Mendikbud, mereka tersenyum, pertanda mereka telah menemukan jawaban atas keresahan dan kebingungan mereka ketika menghadapi pertanyaan bernada cibiran terkait penambahan jam mata pelajaran agama dan budi pekerti.

Optimisme M. Nuh tersebut didukung oleh Pusat Informasi dan Hubungan Masyarakat (PIH) Kemdikbud dalam buku Kurikulum 2013: Tanya Jawab dan Opini pada halaman 7 yang menyatakan, pemerintah menaruh harapan besar, para lulusan yang lahir dari penerapan Kurikulum 2013, dapat menjadi lulusan yang lebih berkualitas dan mampu bersaing di dunia internasional dengan basis karakter yang kuat. Atas dasar keinginan itulah, maka pada Kurikulum 2013 penyesuaian jam pelajaran agama dan budi pekerti menjadi pertimbangan. Penyesuaian jam pelajaran pendidikan agama dan budi pekerti –bukan hanya kuantitas jam pelajaran—tetapi juga untuk mempraktikkan ajaran agama dan mengajarkan perilaku, sehingga menghasilkan anak yang berakhlak mulia.

Cita-cita dasar Kurikulum 2013 yang ingin mencetak generasi yang berakhlak mulia ini membutuhkan keseriusan dalam pengimplementasiannya. Sebelum memukul gong sebagai pertanda dibukanya acara Pelatihan Narasumber Nasional Diklat Kurikulum 2013 bagi Kepala dan Pengawas Sekolah di hotel Oval, Surabaya pertengahan Maret lalu, Mendikbud berpesan agar para narasumber menata niat dalam mengimplementasikan Kurikulum 2013. “Niatnya ditata dalam rangka peningkatan kualitas anak-anak ke depan, insya Allah kita dapat banyak. Ini untuk kebaikan,” pungkasnya. (Bagus Priambodo & Brilly Yudho Willanto)