Konstruksi Kurikulum 2013

Kabar sepekan ----- Sepekan di Jawa Timur (Seputar Pendidikan)
berita 6
Surabaya --- Dalam acara Pelatihan Narasumber Kurikulum 2013 di hotel Oval, Surabaya pertengahan Maret lalu, para peserta yang terdiri dari kepala sekolah dan pengawas dibekali materi mengenai Sistem Penjaminan Mutu Implementasi Kurikulum 2013 dalam posisi mereka sebagai narasumbermaupun instruktur nasional.

Dikatakan Syawwal, acara ini bertujuan bagaimana para peserta agar bisa menjadi kepala sekolah dan pengawas yang bisa mengawal Kurikulum 2013 ini di sekolah sebab sekarang jarang ditemukan kepala sekolah merangkap posisi sekaligus menjadi guru, sekalipun di daerah-daerah terpencil.

“Kita set up kepala sekolah sasaran seperti apa dia di sekolah. Instruktur tentu harus lebih daripada kepala sekolah sasaran. Narasumber juga begitu,” jelasnya.

Diharapkan narasumber bisa memahami seluruh proses implementasi Kurikulum 2013 dan harus menjadi pintu perubahan dengan berbekal kompetensi yang dimilikinya.

Syawwal mengungkapkan bahwa konstruksi tujuan pendidikan nasional mempengaruhi Kurikulum 2013 yaitu agar potensi anak-anak Indonesia berkembangsesuai kelebihan masing-masing sehingga menjadi orang yang bertanggung jawab.

“Ketika semua orang bertanggung jawab, selesai semua urusan. Kalau Singapura, pendidikannya adalah supaya disiplin. Koruptor bertanggung jawab pun jadi enak kita. Negeri ini ketika diisi oleh orang-orang bertanggung jawab apapun posisinya, urusan negeri ini selesai. Untuk itulah ada pendidikan,” paparnya.

Bagaimana caranya bangsa Indonesia yang 90 juta penduduknya terdiri dari anak-anak usia 0-19 menjadi bertanggung jawab? Menurut Syawwal, bangsa Indonesia bisa bertanggung jawab dengan bertaqwa.

“Amerika tidak, Indonesia yang penting itu iman dan taqwa. Coba lihat Pembukaan UUD 1945, bunyinya atas berkat rahmat Allah Yang Maha Esa. Indonesia selalu berserah diri kepada Tuhan. Bukan atas kejagoan dan perjuangan warga negara Indonesia,” imbuh Syawwal dengan logat Sumatera Utaranya (Batak)

Ia menandaskan, potensi bertanggung jawab bisa ditumbuhkan dengan iman dan taqwa. Orang yang takut kepada Tuhan adalah orang yang sangat mulia. Rasa takut terhadap Tuhan itulah yang menjadi sumber kearifan dan kebijaksaan di muka bumi.

Syawwal melanjutkan, selain iman dan taqwa, akhlaq mulia juga turut serta membentuk bangsa Indonesia sebagai bangsa yang bertanggung jawab.

“Nomor satu adab, nomor dua ilmu. Berilmu tapi tak beradab, tidak disukai orang. Beradab walaupun ilmunya sedikit, diterima orang banyak,” lanjutnya menegaskan

Kiat ketiga untuk menjadi bertanggung jawab yang ditawarkan pendidikan Nasional dengan Kurikulum 2013 adalah sehat pikiran dan hati. Sumber penyakit itu pikiran dan hati, baru kemudian makanan/pola makan, pola olahraga, pola istirahat.

Kiat keempat yaitu bangsa Indonesia harus berilmu dan cerdas. Seseorang tidak akan bisa berbuat baik kalau hanya santun. Definisi berbuat baik itu adalah ketika kita bisa berguna bagi orang lain dengan cara santun.

Seseorang yang tidak berilmu, tidak cerdas, sekaligus tidak terampil tentu tidak akan bisa berbuat baik, sekalipun hanya sekedar senyuman. Senyuman pun belum tentu perbuatan baik.

Dengan keempat kiat inilah, selain menjadikan bangsa Indonesia bertanggung jawab, juga menjadikan masyarakatanya cakap, kreatif dan mandiri. Keempat hal ini menghasilkan sikap, pengetahuan dan keterampilan.

“Betapa indahnya hidup di Indonesia jika semua orang yang tinggal di sini bertanggung jawab. Orang yang bersalah mau bertanggung jawab, enak. Koruptor bertanggung jawab, enak. Tidak perlu repot-repot. Paling enak itu hidup di Indonesia. Di negara lain, kita tidak bisa seperti ini,” imbuh Syawwal menyimpulkan sembari mengutip quote dari Socrates bahwa tidak ada hal termahal bagi satu bangsa dan negara kecuali mewariskan dan mendidik generasi mudanya. Artinya keempat hal tadi menjadi instrumen bagi kita dalam mendidik generasi muda Indonesia.

Syawwal menyampaikan harapannya kepada para calon narasumber Kurikulum 2013 agar tahu dan paham betul kompetensinya dengan sempurna dan cara mengukur kompetensi murid yaitu mengamati sikap murid, bukan dengan tes. Bagaimana keterampilan, sikap dan pengetahuan diukur, maka kepala sekolah dan guru harus tuntas memahaminya.

“Kalau bapak atau ibu ingin mengawasi implementasi, gurunya yang pertama kali diawasi dengan mengacu pada kriteria-kriteria yang ada di EDS (Evaluasi Diri Sekolah). Ketika gurunya menerapkan saintifik tematik terpadu, indikator mana yang muncul dan mana yang tidak. EDS itu evaluasi kurikulum,” tegas Kepala BPSDMPK & PMPK Kemdikbud tersebut

Syawwal juga meminta agar kompetensi kepala sekolah harus setara dengan jumlah guru yang ada di sekolahnya. “Satu setting pengetahuan tentang Kurikulum 2013 penting bagi kepala sekolah dan pengawas agar percaya diri ketika mengamati guru. Guru akan gemetar ketika Anda awasi karena tahu kalau Anda lebih tahu/paham,” ujarnya. (Bagus Priambodo & Brilly Yudho Willanto)