Kurikulum 2013 Program Spektakuler yang Revolusioner

Kabar sepekan ----- Sepekan di Jawa Timur (Seputar Pendidikan)
berita 7
Surabaya --- Berbagai kesenjangan yang terjadi di dunia pendidikan di Indonesia mendesak dilakukannya revolusi yaitu perubahan isi, proses dan penilaian. Revolusi ini dilakukan Kemdikbud supaya menghasilkan lulusan yang sesuai dengan cita-cita dan tujuan nasional pendidikan. Otomatis setiap guru harus melihat empat aspek tersebut pada masing-masing peserta didik. Empat aspek tersebut adalah iman dan taqwa, akhlaq mulia, sehat pikiran dan hati, serta berilmu dan cerdas. Empat aspek pada diri peserta didik ini harus menjadi perhatian semua guru, dan dijadikan sebagai acuan dalam mengajar dan mendidik.

“Padahal cuma malaikat pencatat amal lah yang tahu. Kan tidak mungkin guru dilatih jadi malaikat. Tapi guru bisa melakukannya dengan melihat indikasi-indikasinya, seperti bagaimana peserta didik melakukan ibadahnya sesuai agama masing-masing,” papar Syawwal Gultom, Kepala BPSDMPK & PMPK Kemdikbud di acara Pelatihan Narasumber Kurikulum 2013 di hotel Oval, Surabaya pertengahan Maret lalu

Menurutnya, penilaian Kurikulum 2013 terbilang revolusioner sebagaimana tercermin pada bentuk rapor. Syawwal membandingkan dengan bentuk rapor pada kurikulum-kurikulum sebelumnya. Syawwal mencontohkan untuk penilaian sejarah yang berdasarkan hasil ujian berupa soal multiplechoice.

“Bagaimana bisa sejarah dinilai seperti itu. Darimana bisa mendapatkan pelajaran dari sejarah? Kita belajar sejarah itu biar kita bisa mengambil pelajaran darinya dan biar kita tidak mengulangi kegagalan yang pernah terjadi. Begitu juga pelajaran agama. Kenapa dinilai dengan soal? Agama itu sebetulnya sejarah. Tidak ada pelajaran paling menarik kecuali sejarah tapi kenapa banyak anak yang tidak tertarik sejarah? Berarti ada yang salah. Sama juga Matematika kita, selama ini masih menghafal sehingga ketika diberi game (permainan) akan mengalami kesulitan,” pungkasnya

Untuk mengubah model pembelajaran yang semacam itu, 1,7 juta guru dilatih, 300.000 sebagiannya dilatih kabupaten/kota. Baru kali ini Indonesia melakukan program spektakuler yang melibatkan orang sebanyak itu. Belum ada negara yang melatih guru dengan jumlah yang menakjubkan seperti di negara kita. Hanya Indonesia.

Syawwal mengingatkan, walaupun Kemdikbud sudah menyelenggarakan pelatihan Kurikulum 2013 secara masif agar terjadi revolusi di dunia pendidikan, tapi jika tidak didukung oleh guru, tentu tidak akan memiliki hasil apapun. Bagaimana guru akan melakukan perubahan revolusioner secara konsisten kalau tidak ada yang mengawasi. Sehingga dalam hal ini harus ada leader yaitu kepala sekolah. Kalau tidak diawasi, kemungkinan besar kinerja guru akan kembali lagi ke model pembelajaran yang dulu.

“Kalau salah dalam pembelajaran Kurikulum 2013, panggil empat mata, jangan dipermalukan di depan siswa! Dievaluasi bersama-sama,” pungkasnya mempertegas

Begitu juga guru, dituntut untuk menyelenggarakan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Dalam konsep Kurikulum 2013, guru yang baik bukan guru yang rajin bertanya kepada murid, tapi yang membangkitkan murid bertanya sehingga tidak bisa menjawab.

“Einstein juga bilang, lihatlah kualitas seseorang dari pertanyaannya, bukan jawabannya,” imbuh Syawwal.

Revolusioner yang diinginkan Kurikulum 2013 adalah anak sekolah dasar tidak lagi disuruh menghafal melainkan disuruh mengamati walaupun belum bisa baca. “Kurikulum 2013 selalu mengandalkan kegiatan mengamati,” tegas Syawwal.

Berbeda dengan kurikulum-kurikulum sebelumnya dimana anak SD tidak boleh mengamati kecuali sudah bisa membaca dengan lancar. Padahal akan lebih baik jika diharuskan mengamati terlebih dahulu baru dalam perjalanannya dibimbing untuk pandai membaca. Sebagai contoh, menurut Kurikulum 2013, guru SD boleh bertanya, “Dalam perjalanan ke sekolah, apa yang kamu lihat?” kepada anak didiknya.

Revolusi yang dilakukan Kemdikbud melalui Kurikulum 2013 juga menyangkut masalah matapelajaran. Pada jenjang SMP, IPA dan IPS dijadikan terpadu, tidak ada lagi matapelajaran biologi dan geografi. Di jenjang SMA, dipecah kembali. Di jenjang SD semua matapelajaran menyatu kecuali agama dan budi pekerti, PPKN, bahasa Indonesia, Matematika, Seni Budaya dan Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan (Penjasorkes).

“Untuk kualifikasi lulusan SD cukup hanya mampu berbahasa santun, memilih makanan sehat, kreatif dan bisa perhitungan-perhitungan. Tidak perlu lagi diharuskan menjelaskan sistem birokrasi di Indonesia seperti posisi MPR terhadap DPR dan Presiden dan lain sebagainya,” tutur Syawwal.

Untuk itu semua, perlu dilakukan pengawasan, pengendalian, pengawalan agar tidak terjadi penyimpangan atau minimalnya terjadi inkonsistensi terhadap komitmen Kurikulum 2013.

Syawwal juga menyebutkan mengenai sistem penjaminan mutu Kurikulum 2013, bahwa domain pengawalan yang dilakukan antara lain pada: (1) Penyusunan dan pengelolaan KTSP; (2) Pengembangan muatan lokal; (3) Pedoman kegiatan ekstrakurikuler; (4) Pelaksanaan pembelajaran; (5) Pelaksanaan evaluasi kurikulum. (Brilly Yudho Willanto& Bagus Priambodo)